SOSOK PEMIMPIN JAMAN OLD AND JAMAN NOW

Banjir merendam empat Desa di Kecamatan Patrol,  Kamis 9 Januari 2020, akibat Curah hujan yang tinggi,  membuang sampah sembarangan dan meluapnya sungai. Banjir juga berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat. kehilangan harta benda, penyebaran berbagai bibit  penyakit, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Beberapa wilayah yang terendam banjir adalah Desa Bugel Ketinggian air mencapai 1 hingga 1,5 meter, selain Bugel, tiga Desa lainnya yang terendam banjir yaitu Desa Sukahaji, limpas dan Patrol.

Sementara itu banjir di wilayah Kecamatan Patrol berdampak terendamnya rumah-rumah warga, rumah peribadatan, area pesawahan, bangunan sekolah dan perkantoran;  berdasarkan Pantauan Tim POSKO Penaggulangan Bencana Kecamatan Patrol,  sejumlah 1.428 rumah yang terendam banjir; Desa Bugel 700 rumah, Desa Sukahaji; 450 rumah, Desa Limpas 158 rumah dan Desa Patrol 120 Rumah.

Camat Teguh, langsung melakukan “Blusukan” di wilayahnya yang terkena banjir dan menginstruksikan kepada seluruh Instansi, kuwu dan  elemen masyarakat untuk mengambil langkah-langkah tepat dalam rangka menanggulangi bencana banjir dan dampak dari banjir tersebut; dengan memyiapkan Lokasi Pengungsian, Dapur Umum, POSKO Kesehatan dan membantu meringankan beban warganya dengan mengirimkan bantuan sembako.

 

 

Kisah teladan Umar bin Kattab sebagai khalifah yang patut ditiru para pemimpin masa kini. Ketika itu tanah Arab sedang dilanda paceklik atau dikenal sebagai tahun Abu. Musim kemarau panjang yang membuat tanah-tanah arab menjadi tandus.

Suatu sore, khalifah Umar mengajak sahabatnya Aslam blusukan ke kampung terpencil di sekitar Madinah. Di dekat sebuah gubuk reot, langkah umar berhenti. Ia mendengar tangisan seorang gadis kecil, karena penasaran, Umar pun mengajak Aslam mendekati gubuk lusuh itu memastikan keberadaan penghuninya. Khalifah Umar berfikir mungkin penghuni gubuk itu membutuhkan bantuan. Umar pun sampai di dalam gubuk. Seorang perempuan dewasa sedang duduk di depan per “api” an. Perempuan itu terlihat sedang mengaduk-aduk bejana.

Setelah mengucapkan salam, Umar meminta ijin untuk mendekat. Khalifah Umar bertanya, “siapa yang menangis di dalam?” anakku, jawab perempuan itu agak ketus. “kenapa anak-anakmu menangis? Apa dia saki..?” tanya Umar. “Tidak, ia lapar,“ jawab perempuan itu. Seketika Umar dan Aslam tertegun. Keduanya masih duduk ditempatnya cukup lama. Senentara gadis di dalam gubuk masih saja menangis. Dalam keadaan seperti itu, perempuan yang menjadi ibunya terus saja mengaduk bejana. “apa yang kamu masak..? Mengapa juga tidak juga matang masakanm…?” tanya Umar penasaran. “kau lihat sendiri” jawab perempuan itu. “Apakah kau memasak batu?”  tanya Umar dengan terkaget. “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau lihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum?” kata perempuan itu. “Lihatlah aku…” Aku seorang janda sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakkupun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapatkan rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong.  Aku mengumpulkan batu-batu kecil,  memasukkannya ke dalam panci dan ku isi air. Lalu batu-batu itu ku masak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak, mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan, ucap perempuan itu. “Namun apa dayaku…? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak nampu nenjamin kebutuhan rakyatnya”, perempuan itu tidak tahu jika yang dihadapannya adalah khalifah umar.

Mendengar semua itu, Aslam sempat hendak menegur tetapi dicegah oleh Umar. Umar lantas menitikkan air mata. Ia segera bangkit lalu mengajak Aslam kembali ke Madinah. Sampai di Madinah. Umar segera ke “Baitul Mal” dan mengambil sekarung Gandum. Umar langsung mengangkut karung gandum tersebut di pinggangnya.

“Wahai Amirul Mukminin.., biarlah aku yang memikul karung itu, ”kata Aslam mencegah Umar. Wajah Umar merah padam. “Aslam.., jangan jerumuskan Aku ke dalam neraka, kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban dipundakku ini di hari pembalasan kelak?” kata Umar dengan nada tinggi. Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar.

Sesampai di sana, umar meminta aslam membantu menyiapkan makanan. Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan. Melihat mereka bisa makan, Umarpun merasa tenang. Umar kemudian pamit. Ia meminta perempuan itu esoknya menemui khalifah Umar di kediamannya. “berkatalah yang baik-baik..”, besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui Aku juga di sana. Insya Allah dia akan memcukupimu” kata Umar sebelum pergi.

Keesokan harinya, perempuan itu pergi menemui Khalifah Umar bin Khattab. Perempuan itu kaget. Sebab sosok Amirul Mukminin, ternyata dia yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya. “Aku mohon maaf. Aku telah menyumpai kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum,” kata perempuan itu. Ibu tidak bersalah, aku lah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang Ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, Ibu” kata Khalifah Umar.

Begitulah kisah Umar bin Khattab yang takut masuk neraka karena menelantarkan rakyatnya. Ia begitu sedih karena ternyata ada rakyatnya di daerah terpencil yang belum sejahtera. Ia pun takut apabila dihadapan Allah ia dinyatakan tidak adil, hingga Umar memutuskan sendiri mengangkat sekarung gandum sebagai rasa bersalahnya.

Demikian kisah Umar bin Khattab, sosok pemimpin zaman old yang mempunyai kepedulian yang sangat besar kepada rakyatnya, dan Camat Teguh pemimpin zaman NOW… (Tim POSKO PBA Kecamatan Patrol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *